Oleh Zufata, Pendiri Sekolah Kita Menulis (SKM), Tebet, Jakarta Selatan

 


OPINI - Hujan di malam minggu mulai mereda, genderang petir perlahan-lahan mulai berhenti, hujan lebat menjelma gerimis, saya pun menerobos cuaca itu hingga sampai di tempat pertemuan yang tidak jauh dari lokasi saya tinggal, yaitu sebuah tempat yang menurut saya sebagai pertemuan penuh inspirasi dan visioner dalam membicarakan karir, Aceh dan Indonesia. Seberapa inspiratifkah pertemuan itu? Dengan meminjam kalimat yang sering terlontar dari diskusi lintas generasi di tempat tersebut, “Kalau dengan pendapat saya yang salah”, pertemuan yang barangkali telah dirancang oleh sesorang yang mungkin menginginkan generasi Aceh memiliki kemampuan melihat dan memahami realitas kekinian secara tepat dan bijaksana. 


Duduk satu meja dengan orang-orang yang sungguh perpengalaman dan sukses dibidangnya memang menyenangkan, terlebih orang-orang terbut mau menyajikan ilmu pengetahuan tentang membangun anak tangga untuk melihat betapa luasnya lautan, ia membekali oksigen untuk menemukan ada apa saja di dasar lautan, serta memberi cara pandang bagaimana kita mampu berselancar saat gelombang naik atau turun pasang. 


Suasana berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman di tempat ini perlahan-lahan memuncak saat para penggali ilmu dihadiri oleh yang pernah belajar di berbagai negara di antaranya adalah yang dari Tunisia, Turki, Mesir hingga China. Kupas-mengupas peradaban klasik dan modern pun terjadi, mengulik sejarah dan antropologi tak terelakkan, terselip diskusi ekonomi dan hukum, serta merambat pada rinsisan karir dan kekuasaan.


Ada banyak tema yang mengalir dalam pertemuan itu, tema-tema tersebut kemudian berkelindan antara argumentatif tesis dan antithesis, dukungan dan tidak mendukung, realitas kehidupan bernegara diangkat, nilai edukasi yang tampil membuat saya bahkan yang lainnya geleng-geleng kepala dan galak tawa dalam menikmati diskusi tersebut. Diskusinya asyik, santai, penuh nilai homuris, kekeluargaan namun serius dan terukur. 


Di antara banyak sesi atau tahapan dari tingkatan diskusi yang inspiratif tersebut ada sesi unik terkait membahas cara pandang memahami Aceh dan generasinya. Di sini ditemukan ada dua perbedaan yang mencolok antara memahami Aceh dari orang Aceh di Jakarta, dengan orang Aceh yang berada di Aceh. Justru di sela diskursus Aceh yang syarat nilai inspiratif ini semakin hidup di kalangan generasi atau orang Aceh yang tinggal di Jakarta. Berbeda dengan proses galian inspirasi dan pikiran yang terbarukan saat menggali pengetahuan dan persilatan Aceh yang berada di daerah yang kemudian cenderung berakhir pada persoalan-persoalan yang dangkal, bahkan berakhir dengan kebuntuan berfikir dan kekacauan dalam pelaksanaan. 


Memang wajar, khazanah orang Aceh yang berpengalaman hidup di Jakarta tidak dapat disanding lurus dengan orang Aceh yang berpengalaman hidup dan tinggal di Aceh. Dua hal ini pun bukan untuk dipertentangkan. Pola pendidikan saat bertemu dengan orang-orang Aceh yang berpengalaman tinggal di Jakarta justru di situ banyak energi positif dalam menilai dan menatap Aceh di kemudian hari. 


Praksis saling mengerdilkan, saling melelamahkan, merasa hebat sendiri, merasa kelompoknya yang paling benar, merasa jabatannya yang waw, serta merasa pendidikannya yang paling dibutuhkan. Rentetan fenomena Aceh ini adalah sajian-sajian buruk, bahkan telah menjadi lingkaran diskursus tanpa henti bagi orang-orang Aceh di daerah. Padahal, ada banyak ruang diskursus yang perlu dibuka luas di sana, di antaranya soal kelenturan, komunikatif dan jaringan. 


Tiga kata kunci di akhir paragraf di atas tanpa disadari menghantarkan diskusi di tempat inspiratif tersebut berada pada titik argumentasi bahwa generasi muda yang mungkin 20 tahun kedepan cobalah terus berusaha untuk membebaskan Aceh dari berbagai jeratan-jeratan yang sangat kompleks menghampirinya. 


Malam semakin larut, ngopi rasa kuliah umum semakin menarik dan mulai mengerucut kearah tiga kata kunci dalam meniti karir dalam dunia persilatan hari ini. Yang disebut lentur dalam singgungan tulisan ini bukanlah lentur tanpa prinsip, tetapi kemampuan untuk dapat menciptakan kesenangan orang banyak, mampu memberikan pelayanan secara optimum serta mampu meningkatkan kamampuan diri secara mutakhir. Keterangan lanjutan soal ini akan dibahas pada jadwal pertemuan inspiratif selanjutnya.


Demikian pula terkait sifat komunikatif, kebekuan dalam menjalin silaturahmi, mencocokkan pemahaman dan tujuan yang hendak dicapai tidak boleh terhenti di titik beku dan berlarut-larut, namun ia harus mencair bagaikan air laut meski hantaman dari gelombang terus terjadi, pada akhirnya air laut tetap menyatu pada kekuatan asalnya. Sifat komunikatif yang menjadikan kekuatan terkait ini masih ada sesi diskusi lanjutannya. 


Tak kalah pentingnya adalah soal jaringan. Tanpa jaringan, seberapa cerdas atau lulusan luar negeri pun saat ini akan tidak berguna dalam proses perwujudan kekuatan kebaikan secara masif. Orang boleh saja bergelar doktor bahkan profesor, tanpa jaringan ia akan menjadi pemain tunggal yang kadang selalu terjebak dan bertengkar dengan ilusinya sendiri. Sehingga celah-celah perubahan terus dimanfaatkan dan dikendalikan oleh orang-orang yang memiliki jaringan yang kuat dan saling terkoneksikan di berbagai lempengan-lempengan kekuasaan di dalam negeri maupun luar negeri. 


Malam semakin larut, hujan kembali melebat, petir kembali menyapa. Orang-orang yang saya anggap sangat berpengalaman tersebut satu per satu minta izin untuk beristirahat dengan mengunci pernyataan bahwa “di waktu yang lain diskusi adaptif dan inspiratif ini akan kita lanjuntkan”. Sembari menemani hujan reda kembali, seorang yang juga sangat berpengalaman serta ramah dalam berbagai wawasan pendewasaan hidup itu menyatakan “sibak rukok teuk”, dan diskusipun sampai pada posisi menit-menit terakhirnya. 


Masih menjadi pertanyaan, dimanakah tempat diskusi ini berlangsung? Saya tidak ingin menjawabnya secara langsung, tetapi sekadar memberi kisi-kisi jawaban bahwa tempat ini adalah tempat berbagai makna ke-Acehan bisa digali, berbagai koneksi bisa disambungkan, berbagai keadaan bisa dirasakan. Barangkali pembaca sudah bisa menebak tempat ini berposisi di mana sesuai kedekatan antara makna tulisan dan judul tulisan. Mungkin pula pembaca dapat mengetahui siapa-siapa saja orang yang hadir di dalamnya. 

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama