Oleh Zulfata, Pendiri Sekolah Kita Menulis (SKM), Tebet, Jakarta Selatan



OPINI - Cuaca sore itu lumayan bersahabat, ditambah dengan tidak adanya macet menuju Benhil. Maklum, hari itu hari Minggu, memang hari Minggu membuat orang-orang seakan merdeka satu hari dari segala bentuk penjajahan di negeri ini. Tepat pukul lima sore, saya berada di tempat yang telah direncanakan untuk melanjutkan diskusi, bincang-bincang, wawancara, blak-blakan, hingga cerita lucu di tempat yang disebut inspirasi connection tersebut. 


Pertemuan kali ini berbeda dari seperti biasanya, perbedaannya terletak pada jumlah narasumber. Kali ini narasumbernya tunggal. Begitu pula dengan ruang diskusi yang digunakan agak sedikit khusus, demikian pula pesertanya yang tidak lagi dihadiri oleh yang pernah belajar di luar negeri namun masih berada di persimpangan jalan akibat belum mendapat koneksi. Ini Indonesia, tentu harus memiliki keunikan dan kegilaannya tersendiri yang tak cocok dengan sekadar menghandalkan bekal ilmu yang dibawa dari pendidikan luar negeri. 


 Sebelum masuk ruangan, meletup suatu kalimat dari salah satu peserta “di ruangan ini bolehkah merokok?” dengan suara yang merendah memberi kesan hormat sebagai tamu. Jawaban lansung diberikan “selama saya masih merokok, ruangan ini bisa merokok”. Jawaban ini kemudian memancing galak tawa pertama sebagai pembuka dalam memulai diskusi yang mengalir bagaikan fungsi sumur serapan di Jakarta, kadang dianggap efektif, kadang tidak.


Dialog pun berlanjut, kisah-kisah lama kembali digali, lembar demi lembar peristiwa unik dan kegilaan kembali dibolak-balik dan dikenang untuk dipelajari oleh generasi seterunya. Secara perlahan-lahan, narasumber menggiring tema diskusi terkait Aceh sebagai daerah, Aceh memandang pusat, pusat memandang Aceh, dan potret transisi kepemimpinan daerah dan nasional. Antara angka 1998, 2009 sampai 2022 ke 2024 terselip-selip dalam peristiwa yang diangkat dalam diskusi ini.  Tanpa terasa, diskusi kian padat, banyak pertanyaan yang dilontarkan, upaya konfirmasi dan pembuktian terus dilakukan, diskusi pun semakin menarik dengan informasi-informasi unik dan penuh kegilaan itu. 


Mengapa disebut unik, dan mengapa disebut gila? Karena memang memami Aceh dan Indonesia sebagai kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan memang semakin membuat kita terheran-heran dan kemudian berujung pada tak sanggup pikir, dalam artian diluar batas kehidupan normal bagi manusia yang berfikir normatif. Mungkin inilah yang disebut oleh narasumber bahwa gelanggang tarung ini tidak ada yang namnya ideal, yang ada adalah koneksi, atau republik koneksi, dengan koneksi alur-alur keunikan itu semakin nyata terlihat, demikian dengan proses kegilaan itu, semakin kita mengenalnya, semakin gila pula perbuatannya. Jelasnya, semakin kita mengenal calon pemimpin kita, kadang menggiring kita untuk menemukan sisi kegilaannya. 


Pembaca tidak perlu bingung saat membaca uraian penuh isyarat dan maksud tulisan ini, sebab tulisan ini memang dirangcang untuk sekadar meberi sinyal pergolakan sosial, bisnis, politik antara Aceh, nasional hingga gerak lincah para elite-elite politik di Indonesia. Aspek keunikan ini akan jelas terlihat bagaimana femonena para calon pemimpin daerah Aceh, baik yang sudah menjabat, gugur menjabat, sengaja digugurkan menjabat hingga dipersiapkan untuk menjabat. 


Bahasa sandi waktu itu adalah soal siapa yang disukai siapa, siapa yang melanggar komitmen siapa, atau siapa yang mempercayai siapa. Soal pemimpin Aceh itu tergantung siapa yang menunjuk, apakah rakyat yang menunjuk? apakah presiden yang menunjuk? Apakah pembisik presiden yang menyiapkan untuk dapat ditunjuk? Sesi ini membuat dialetika diskusi memuncak tinggi, seakan-akan demokrasi itu memanng cocok dengan judul buku yang saya tulis “Keberengsekan…” itu memang fakta yang tak terbanhangkan selama narasumber berada di lingkaran lempeng cendana hingga masuk dalam ekosistem pasang surutnya bisnis nasional dan internasional. 


Sebelum menampilkan tulisan ilustrasi terkait kegilaan? Saya bertanya ke narasumber, “Apakah proses transformasi politik yang unik itu, lebih gila lagi soal bisnis dari pada politik?” jawaban narasumber adalah bisnis lebih gila lagi dari proses transformasi kepemimpinan, atau cocok-mencocokkan pasangan pemimpin, terutama soal pasangan calon gubernur Aceh dan wakil gubernur Aceh yang dosa-dosa politiknya dapat menciptakan sejarah baru kegilaan pemimpin Aceh. 


Semua peserta seakan melayang mendengar informasi itu, larut dalam mencermati kemunafikan yang dilakoni para pemimpin. Ada peserta yang tertawa terbahak-bahwak, ada peserta yang berkerut sembilan keningnya, ada pula peserta yang sekadar angguk-angguk karena antara mengerti atau tidak, betul atau tidak soal materi diskusi yang disajikan ini. “Generasi kalian harus berani merubah citra itu,” ujar narasumber. Demikian pula dengan ancaman krisis kepemimpinan yang nyata melanda Aceh hari ini. 


Tidak kalah pentinya pula adalah para pengawal atau pemain politik Aceh di Jakarta harus diganti, kanalnya harus dirubah, sehingga saat pusat memandang Aceh itu telalu enteng, baik melalui simbol-simbol yang melekat pada orang-orang itu saja maupun isu ekonomi politik yang dimainkan dari level bawah. Penempatan PJ Gubenrnur, PJ Bupati/wali kota di Aceh hari ini dapat dilihat sebagai cerminan bagaimana pusat memandang Aceh. Aceh harus cepat bangun dari ancaman yang justru merugikan daerah Aceh itu sendiri. 


“Bagaimana caranya?” Tanya saya kembali. “Caranyanya adalah melalui generasi kalian ini tidak boleh lagi saling menjelek-jelekkan satu sama lain. Tradisi generasi di atas kalian yang sok dekat dengan menteri atau dekat presiden, hal sedemikian tidak perlu diikuti, apalagi aksi merong-rong kekuasaan atas nama keistimewaan Aceh kemudian dapat diam seketika setelah mendapat seonggok uang atau jabatan tertentu.” Ujar narasumber.


Mungkin butuh 20 tahun lagi Aceh bisa berubah ke arah sana, sebab generasi Aceh hari ini justru semakin nyaman di gerbong-gerbong para tokoh daerah yang mudah dikendalikan atau dipermainkan oleh beberapa orang pusat yang kadang-kadang “berengsek” pikirannya. 


Sekali lagi, tulisan ini memiliki kode etik khsusus, kode etik yang barangkali untuk tidak ingin menyebut nama narasumber dan peserta lainnya yang terlibat di tempat diskusi diskusi ini. Mungkin soal tempat diskusi bisa pembaca tebak dengan mudah, anggap saja yang mudah ini sebagai bonus. Yang jelas tulisan ini berupaya untuk menjadi penyulut nalar bagi yang mau mengaktifkan nalarnya dengan memahami indikasi-indikasi yang disingung melalui tulisan ini. Barang kali tulisan ini ingin mengajak pembaca berani meraba dalam gelap, bagi yang memiliki senter atau lampu untuk melihat secara terang akan tidak menangkap kekeliruan makna dan maksud. 


Tanpa terasa, waktu diskusi saat itu telah berada di posisi 12 malam lewat, namun kalimat “sibak rukok teuk” yang sudah menjadi ciri khas bincang connection saat hendak menutup sesi berbagi ilmu dan pengalaman malam itu. Tanpa disadari, saya bersama rekan saya yang datang sejak pukul lima sore hingga pukul 12 malam lebih. Rentang waktu ini sungguh mengasyikkan, waktu berjam-jam terasa singkat dengan wawasan yang begitu luas dan mencekam namun menyegarkan saat memahami perpedaan antara lapangan main yang memiliki jaringan dengan yang tidak memiliki jaringan. Lantas dimana substansi demokrasi itu dijalankan oleh pengusa atau rakyat? Untuk menemukan jawabannya, tunggu episode perbincangan selanjutnya.  

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama