Oleh Zulfata, Pendiri Sekolah Kita Menulis (SKM) Tebet, Jakarta Selatan

 



OPINI - Jadwal bincang-bincang pertemuan ke tiga mesuk ke WhatsApp saya lebih awal dua jam sebelum memulai diskusi Aceh Connection. “Zul nanti kita jam 4 ngopi di Benhil” demikianlah teks yang tertulis di halaman pesan WhatsApp saya, kemudian saya balas tulis, “Ok”. Kegiatan saya hari itu lumayan padat, sebab dua jam sebelum pertemuan di Benlih saya ingin menuju  TIM (Taman Ismail Marzuki) untuk menggali wawasan terkait sastra, kota dan media yang kegiatannya dieksekusi oleh Tempo, suatu media yang unik dan menarik bagi saya. 


Jalan menuju ke TIM saat itu lumayan tidak padat, tetapi cuaca mendung, kabut kelam menghiasi langit Jakarta, bahkan pada waktu-waktu tertentu saya terpaksa menerobos gerimis, hingga tiba ke TIM. Selesai memahami benang merah acara di TIM, saya langsung bertolak dari Cikini ke Benhil. Tiba ke lokasi, memarkirkan kenderaan kemudian masuk ke Aceh Connection, duduk di meja paling kanan pintu masuk utama di lantai satu. Dengan ditemani segelas lemon tea hangat, dan sejumlah pengunjung yang cukup memeriahan cuaca mendung Jakarta saat itu. 


Sambil menunggu narasumber datang, terlintas dalam pikiran saya bahwa isu apa yang akan atau mungkin akan didiskusikan sore itu. Setelah mencicipi seperempat batang rokok, saya dipanggil naik ke lantai dua oleh seorang fotografer teman baiknya narasumber. Kami menuju ruang dimana tempat biasa narasumber berbagai ilmu dan pengalamannya, baik soal ilmu panggung kehidupan hingga ilmu bertahan hidup dan pendewasaan. 


Pada saat itu narasumber tanpa pengantar yang panjang, langsung menegaskan ke saya, “Jangan lagi melihat dari perspektif deerah soal nasional, tetapi lihatlah nasional dalam kacamata yang menyeluruh, di Jakarta ini banyak yang harus ditulis”. Pernyataan itu membuat saya tergugah, badan terasa segar dan gegap gempita untuk ingin terus memahami apa yang sedang ditampilkan di depan panggung maupun di balik panggung negara dari masa ke masa. 


Belum begitu jauh narasumber menjelaskan terkait tema yang berkaitan dengan bisnis, politik dan negara dari masa Soeharto, Habibie, Gusdur, Megawati, SBY hingga masa presiden Joko Widodo. Banyak dinamika bisnis dan politik yang terjadi sepanjang nama-nama presiden yang disebutkan saat itu, mulai soal pasang surut BUMN hingga karakteristik ciri politik pemerintahan pada masanya. 


Beragam persoalan terkait persaingan yang tidak sehat diuraikan oleh narasumber, demikian juga soal untung atau buntung bagi negara terkait perilaku lenggang main para direktur, direksi, komisaris hingga cara mengelola karyawan. Pada titik ini narasumber kembali mempertegas bahwa anak muda hari ini mesti bisa membuka pikirannya untuk menggeluti pertalian bisnis dan politik terkait BUMN. 


Belum sampai bicara jauh soal bisnis, politik dan BUMN, kita waktu itu datanglah seorang narasumber ke dua, ia juga sebagai saksi segaligus pelaku gerakan reformasi 1998. Sekarang ia menjabat sebagai komisaris. Kehadirannya sedikit memberi jeda, bahkan sedikit membelokkan tema khusus yang disampaikan oleh narasumber utama. Dengan semangat Melayu yang gagah, narasumber kedua ini melontarkan kalimat ke peserta diskusi, “berpolitik itu seperti ulat taik, sekecil apapun lubangnya, kita mesti bisa masuk”. Pernyaataan ini langsung memicu tawa semua yang berada di ruang khusus tersebut. 


Dalam konteks ini masih narasumber kedua memimpin diskusi, ia melanjutkan bahwa bekerja, mengabdi atau berbisnis di dunia BUMN tidak selamanya berjalan mulus kecuali hanya ingin menikmati gaji buta saja, ada juga yang suka bertengkar di dalamnya. Giringan tema ini telah menjadikan narasumber kedua untuk kembali mengrahkan diskusi pada tema induk, yaitu bisnis, politik dan negara. 


Dengan gagahnya narasumber menceritakan kisah-kisah yang mereka lakukan di masa 1998, namun pada saat ia berada di jabatan komisaris saat ini seakan ia ingin meyakinkan peserta bahwa kekuasaan sulit untuk dilawan tanpa ada gerbong atau tempat bergantung. Bayangkan saja misalnya generasi 98 yang awalnya untuk tidak ingin bergabung dengan kekuasaan namun pada akhirnya menjadi bagian dari kekuasaan itu sendiri, baik itu sebagai anggota legislatif maupun sebagai komisaris di BUMN. 


Dari berbagai narasi terkait bisnis, politik dan negara yang disampaikan oleh dua narasumber dari sore hingga malam saat itu, saya berusaha menggali informasi terkait seberapa banyak untungnya negara BUMN? Serta apakah BUMN akan berpotensi dikelola seperti masa Soeharto? Serta bagaimana platform atau semangat yang ideal dalam menyikapi BUMN saat ini dan masa depan?


Rentetan pertanyaan saya tersebut kembali mempertajam arah diskusi, narasumber menjawab pertanyaan pertama bahwa negara tampak tidak untung-untung banget dari bisnis BUMN, terkadang terjebak ke dalam praktik monopoli. Meski demikian ada BUMN yang dominan membawa keuntungan bagi negara, misalnya BMUN menyumbang jumlah pajak yang besar terhadap negara, juga dengan sektor perbankkan tertentu yang cenderung menguntungkan negara. 


Dari pertanyaan kedua, narasumber menyatakan bisa jadi atau ada kemungkinan tatakelola BUMN nanti akan dikelola seperti masa Soeharto, semuanya akan dikembalikan pada persoalan-persoalan teknis. Kemudian narasumber memberikan ilustrasi bahwa lihatlah soal tumpang tindih fungsi BUMN, baik dari sisi kehadiran anak BUMN hingga kebijakan terkait BUMN itu sendiri. Paling tidak, semua Menteri BUMN ingin memberikan yang terbaik bagi kebaikan negeri ini. Pernyataan akhir ini pun membuat semua pelaku diskusi jadi tertawa. 


Terkait platform dan semangat, narasumber melihat pada awalnya masa kepemimpinan BUMN hari ini justru ia tertarik dengan semangat ingin menginternasionalkan BUMN, artinya BUMN bergerak ke level internasional, sehingga tidak menggarap hal-hal yang kecil di dalam negeri dan kemudian menciptakan ego sektoral yang sangat tinggi. 


Karena suasana diskusi saat itu terasa sangat tidak santai seperti biasanya, agak sedikit sunyi dan kaku, suasana ini terjadi munngkin karena peserta agak sedikit kurang mendalami dinamika dunia BUMN. Untuk mencairkan susana sedekimian, saya kembali melontarkan pertanyaan yang barangkali sekadar untuk mengundang tawa, “seandaiknya abang diberikan kesempatan untuk menjadi Menteri BUMN, semangat apa yang akan abang lakukan untuk menjadikan BUMN semakin baik?”. 


Wajah narasumber tersenyum mendengar pertanyaan dari saya, peserta yang lain juga ada yang tersenyum dan ada juga sampai tertawa. Suasana diskusi kembali santai dan rileks. Sembari menarik hisapan rokoknya, narasumber menjawab dengan penuh humoris pula bahwa “Paling tidak, jika saya menjadi menteri BUMN, semua kawan-kawan saya akan jadi komisaris”. Tumpah tawa pun terjadi pada saat itu. Dari konteks diskusi yang penuh nilai humoris dan edukasi ini mungkin dapat diambil pelajaran bahwa tidak keliru rasanya ketika kita mengatakan bahwa faktor kenalan, persahabatan, proses, jaringan bahkan seberapa tebalnya uang seseorang nyata-nyata telah menjadikan proses bernegara menjadi tidak ideal. 


Waktu telah menunjukk waktu tengah malam. Para peserta tampak gejala-gejala lesu dan digoda rasa ngantuk, beberapa gelas dan piring nasi goreng di meja diskusi pun telah dibersihkan. Sehingga narasumber utama memberikan kalimat penutup sesi diskusi pada malam itu dengan mengatakan “sibak rukok teuk”. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama